Api di Bukit Menoreh

Seri V-02 (revisi + tambahan)
Membangun Armada Laut
Yang kuat bagi Mataram

Oleh Ki Agus S. Soerono
———————————————————————————
Demikianlah mereka berbincang mengenai berbagai hal yang menyangkut keluarga mereka. Ki Gde Menoreh menanyakan tentang cucunya Swantara, yang tentunya sedang lucu-lucunya.
“Ayah Demang menjadi kewalahan mengatasi anak kecil itu,” kata Swandaru. “Anak itu suka berlari ke sana kemari dan memanjat semua pepohonan yang ada di halaman rumah.”
Ki Gde Menoreh mengerutkan keningnya.
“Bukankah Swantara belum berumur empat tahun?” tanyanya.
“Belum ayah. Tetapi ia sudah lincah sekali bermain ke sana kemari. Ada saja gagasannya yang lucu-lucu membuat semua orang tersenyum, bahkan tertawa lebar,” kata Swandaru.

Lihat selengkapnya di matarambinangkit.com

Api di Bukit Menoreh
Seri V-01

Membangun Armada Laut
Yang Kuat bagi Mataram

Oleh Ki Agus S. Soerono

—————————————————————————–
DENGAN sigap Ki Lurah Suprapta menghindari semua serangan orang yang bermata juling dan berambut keriting. Namun Ki Lurah tentu saja tidak mau menjadi kantong pasir yang diam saja diserang bertubi-tubi seperti itu. Sambil menghindari serangan yang membabi buta itu, Ki Lurah pun dengan gencar balik menyerang lawannya.

Sebuah tendangan mendatar yang mengincar dadanya dengan cepat bisa dihindarinya, lalu Ki Lurah pun membalasnya dengan sebuah tendangan beruntun dengan kaki kiri dan kaki kanan. Orang yang bermata juling itu pun terjengkang ke belakang ketika tendangan Ki Lurah Suprapta menghajar pundaknya.

Orang berwajah kasar dan bermata juling itu mengumpat-umpat kasar ketika pundaknya terasa nyeri. Ia pun segera surut selangkah lalu mempersiapkan diri menghadapi serangan Ki Lurah yang datang membadai seperti burung sikatan yang menyambar belalang. Namun agaknya ilmu olah kanuragan orang yang berwajah kasar dan bermata juling itu hampir setingkat lebih rendah daripada ilmu olah kanuragan Ki Lurah Suprapta.
Setiap kali mendapat serangan yang cepat dan keras, orang bermata juling itu kesulitan untuk menghindari serangan lawannya. Sebuah tendangan yang kuat dan cepat telah menyambar lambungnya. Orang bermata juling itu surut selangkah dan jatuh terbanting ketika Ki Lurah Suprapta mengejarnya dan memukul dagunya dengan sisi telapak tangan kanannya.
Ki Lurah membiarkan orang bermata juling itu dengan tertatih-tatih bangun dan bersiap menyerang kembali.

Lihat selengkapnya di  matarambinangkit.com

Api di Bukit Menoreh

Seri IV-99

Membangun Armada Laut

Yang kuat bagi Mataram

Oleh Ki Agus S. Soerono

Ki Tumenggung Untara tersenyum lalu keluar ke halaman depan, menggantungkan keranjang buah itu di pelana kudanya, melepas tali kendali lalu meloncat ke punggung kuda. Ia melambaikan tangannya dan menyentak tali kendali kudanya. Kuda tersebut pun berlari ke padepokan yang tidak terlalu jauh dari barak itu.

Ketika kudanya mencapai regol padepokan itu, maka Ki Tumenggung Untara turun dari kudanya. Seorang cantrik yang sedang berada di halaman depan segera menyambutnya.

–Apakah paman Widura ada di padepokan—tanya Ki Tumenggung Untara.

Belum lagi cantrik itu sempat menjawab, terdengar tertawa dari pendapa.

Lihat selengkapnya di matarambinangkit.com

Api di Bukit Menoreh

Seri IV-98

Membangun Armada Laut
Yang kuat bagi Mataram

Oleh Ki Agus S. Soerono

–KAKANG jangan terkejut ya—kata Sekar Mirah kepada suaminya. Justru nada percakapan yang dimulai dengan larangan supaya jangan terkejut, membuat wajah Ki Rangga menjadi bertanya-tanya.

–Ada apa Mirah?—tanya Ki Rangga Agung Sedayu.

–Tetapi kakang berjanji dulu untuk tidak terkejut—kata Sekar Mirah, yang justru membuat dahi suaminya berkerut-kerut.

–Baik-baik. Aku berjanji untuk tidak terkejut—kata Ki Rangga Agung Sedayu. Namun dari raut wajahnya nampak penuh tanda tanya.

Meskipun Ki Rangga sudah berjanji untuk tidak terkejut, namun Sekar Mirah belum juga mengatakan sesuatu kepada suaminya. –Katakan Mirah, apa yang terjadi padamu—

–Coba kakang tebak, apa yang terjadi padaku—kata Sekar Mirah sambil tersenyum-senyum.

Lihat selengkapnya di matarambinangkit.com

Api di Bukit Menoreh


Seri IV-97

Melawat ke Arah Matahari Terbit

Oleh Ki Agus S. Soerono

ORANG yang berdesis luar biasa itu, masih belum berbuat apa-apa.  Ia masih berlindung di kegelapan di balik pepohonan. Lelaki itu dengan seksama masih memperhatikan betapa Ranti yang bergerak dengan gesit di tengah kepungan keempat pengikut Pangeran Ranapati itu. Ranti meskipun dikepung oleh empat orang pengawal Pangeran Ranapati, namun tidak membuatnya kebingungan. Justru keempat lawannyalah yang menjadi gelisah menghadapi kecepatan gerak Ranti yang sulit diduga.

Lelaki itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya ketika Ranti yang diserang lambungnya dengan sebuah tendangan memutar oleh orang yang rambutnya ubanan, dengan tangkasnya berkelit ke samping sambil merendahkan badannya. Orang yang rambutnya ubanan itu mengumpat kasar ketika serangannya tidak  mengenai sasaran. Sebaliknya secepat kilat siku kanan Ranti menyodok pinggangnya, sehingga serasa seolah-olah tulang rusuknya retak semua. Namun sebagai pengikut Pangeran Ranapati yang setia, orang yang berambut ubanan itupun ternyata sudah mendapat bekal ilmu yang cukup dan sudah termasuk yang paling tinggi tatarannya.  Silakan baca secara lengkap di matarambinangkit.com.

ADBM Lanjutan

Karena banyaknya posting atau tulisan yang menginginkan ada orang yang melanjutkan karya adiluhung dari maestro penulis S.H. Mintardja–Api di Bukit Menoreh–yang sampai akhir hayatnya belum selesai secara tuntas, saya memberanikan diri untuk melanjutkan karya tersebut. Tentu berbagai masukan dari Kisanak akan sangat kami hargai.

 

Blog ini dibuat pada Desember 22, 2009 at 18:39

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.